CLOCK

CALENDAR

Entri Populer

BLOG REKAN UPTD

BLOG SAHABAT

Share It

Diberdayakan oleh Blogger.

Penanganan Pasien Sakit Jiwa Dipuskesmas Karangsambung

Diposkan oleh puskesmas krsambung Kamis, 03 Mei 2012


Penanganan Pasien Sakit Jiwa
Di Puskesmas Karang Sambung
Oleh: Heni mulyani Am.Kep


                 LATAR BELAKANG
Kesehatan jiwa merupakan unsur yang sangat penting.  Kesehatan jiwa adalah bagian utama kesejahteraan  manusia. Tanpa kesehatan jiwa kesejahteraan manusia tidaklah lengkap. Menurut prevalensi, di Indonesia masalah kesehatan jiwa masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Hasil Riskesdas tahun 2007 ditemukan angka masalah gangguan mental emosional sebesar 0,46% sementara  angka gangguan jiwa  berat sebesar 11,6%.
Tingginya angka prevalensi gangguan jiwa yang tidak diimbangi dengan tersedianya fasilitas pelayanan mencerminkan masalah kesehatan mental di Indonesia cukup memprihatinkan. Lebih memprihatinkan lagi bila melihat masih terbatasnya jumlah profesi yang menangani, yakni psikiater, perawat kesehatan jiwa dan psikolog. Dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2011  sekitar 241 juta jiwa, jumlah psikiater yang ada hanya sekitar 600 orang dan jumlah psikolog klinis masih sekitar 365 orang.
Permasalahan kesehatan jiwa ini menyebabkan Penderitaan yang berkepanjangan bagi individu, keluarga, masyarakat, dan negara karena berkaitan dengan kemandirian dan Produktivitas penderita.
Masih banyaknya pasien gangguan jiwa yang harus dipasung ataupun diisolasi karena tidak adanya fasilitas kesehatan jiwa. Sebaiknya Puskesmas diseluruh Indonesia disiapkan untuk dapat menangani pasien gangguan jiwa. Selain itu, kurangnya informasi membuat masyarakat masih memiliki stigma yang buruk terhadap pasien gangguan jiwa sehingga harus memasungnya.
Karena banyaknya pasien gangguan jiwa, maka perlu dilakukan pelatihan untuk dokter dan perawat di Puskesmas tentang cara-cara penanganan terhadap pasien gangguan jiwa, serta menyediakan obat-obatan yang diperlukan.



PELAYANAN KESEHATAN JIWA DI PUSKESMAS DAN RSU

1. PRINSIP DASAR
    a. Tujuan Umum :
         i. Puskesmas dan RSU Kelas C/D pada dasarnya mempunyai tugas memberikan    pelayanan   kesehatan umum / kesehatan dasar kepada masyarakat
        ii. Untuk dapat melaksanakan pelayanan kesehatan dengan baik disarankan menerapkan   pendekatan Elektik - Holistik, sehingga menempatkan pasien pada kedudukan yang lebih  manusiawi, tidak sebagai objek saja, tetapi sebagai subjek yang ikut dalam proses pengobatan.

    b. Tujuan Khusus (Specific Behavioural Objectives) :
         i. Memahami beberapa konsep dasar kesehatan jiwa, seperti : definisi kesehatan / kesehatan   jiwa, pendekatan elektik - holistik, lingkup masalah kesehatan jiwa, dan upaya kes. jiwa.
        ii. Memahami sistem pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia, baik dalam perkembangannya,  maupun hubungannya dengan sistem pelayanan kesehatan umum (Sistem Kesehatan Nasional),  sehingga dalam bekerja mengetahui kedudukannya dan dapat membina hubungan kerjasama  dan rujukan lintas program / sektor dengan sektor / instalasi lain yang terkait.
        iii. Memahami berbagai gangguan jiwa dan masalah kesehatan jiwa yang ada dalam masyarakat,  dan mampu memberikan pelayanan kesehatan jiwa secara integratif
       iv. Memahami peraturan perundang-undangan di bidang kesehatan / kes. jiwa sehingga dalam   melaksanakan tugasnya baik teknis maupun administratif sesuai dengan program dan  kebijaksanaan pemerintah, serta semua labgkah-langkahnya sesuai dengan norma administratif  legal yang berlaku.

2. MATERI
    Materi pelatihan harus dirinci sesuai dengan tujuan khusus.



3. METODE
    Melalui pelatihan dengan jam kerja yang cukup untuk menampung materi yang diberikan.
      - Dengan belajar sendiri melalui buku-buku yang diberikan atau dianjurkan untuk dibaca.
      - Melalui demonstrasi kasus, "bed - side teaching" di RSJ untuk beberapa waktu.
      - Melalui pembinaan hubungan konsultatif dengan psikiater pembinanya.



Pelayanan Kesehatan Jiwa Di Puskesmas Karang Sambung
Program kesehatan jiwa dipuskesmas karang sambung sampai saat ini masih belum berjalan, Ketidak siapan tenaga dan tidak tersedianya obat – obatan yang diperlukan menjadi alasan kenapa program kesehatan jiwa tidak berjalan dengan semestinya.
Angka kesakitan kesehatan jiwa yang ditemukan di Puskesmas karang Sambung (baik dilapangan maupun dari kunjungan puskesmas), sekitar kurang lebih 20 orang.baru konseling dan pemberian Diazepam saja yang bisa diberikan terhadap pasien – pasien tersebut.
Kesimpulan
Kesehatan jiwa merupakan unsur yang sangat penting.  Kesehatan jiwa adalah bagian utama kesejahteraan  manusia. Tanpa kesehatan jiwa ksejahteraan manusia tidaklah lengkap.
Masalah Kesehatan jiwa memang tidak secara langsung menyebabkan kematian, tetapi sangat berpengaruh terhadap kemampuan seseorang. Masalah Kesehatan Jiwa dapat menyebabkan penderitaan yang berkepanjangan bagi individu, keluarga, masyarakat, dan negara karena berkaitan dengan kemandirian dan produktivitas penderita.
Karena tingginya angka kesakitan jiwa, maka perlu diadakan pelatihan buat dokter dan perawat, disediakannya obat-obatan yang dibutuhkan, bila perlu ditempatkan psikiater di puskesmas.
Ada beberapa tindakan keperawatan yang bisa dilakukan terhadap pasien gangguan jiwa yang ada di Puskesmas.

·         Penatalaksanaan pada pasien halusinasi dengan cara :
  1. Menciptakan lingkungan yang terapeutik
    Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dan ketakutan pasien akibat halusinasi, sebaiknya pada permulaan pendekatan di lakukan secara individual dan usahakan agar terjadi knntak mata, kalau bisa pasien di sentuh atau di pegang. Pasien jangan di isolasi baik secara fisik atau emosional. Setiap perawat masuk ke kamar atau mendekati pasien, bicaralah dengan pasien. Begitu juga bila akan meninggalkannya hendaknya pasien di beritahu. Pasien di beritahu tindakan yang akan di lakukan.
    Di ruangan itu hendaknya di sediakan sarana yang dapat merangsang perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan dengan realitas, misalnya jam dinding, gambar atau hiasan dinding, majalah dan permainan.
  2. Melaksanakan program terapi dokter
    Sering kali pasien menolak obat yang di berikan sehubungan dengan rangsangan halusinasi yang di terimanya. Pendekatan sebaiknya secara persuatif tapi instruktif. Perawat harus mengamati agar obat yang di berikan betul di telannya, serta reaksi obat yang di berikan.
  3. Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah yang ada
    Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat menggali masalah pasien yang merupakan penyebab timbulnya halusinasi serta membantu mengatasi masalah yang ada. Pengumpulan data ini juga dapat melalui keterangan keluarga pasien atau orang lain yang dekat dengan pasien.
  4. Memberi aktivitas pada pasien
    Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik, misalnya berolah raga, bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini dapat membantu mengarahkan pasien ke kehidupan nyata dan memupuk hubungan dengan orang lain. Pasien di ajak menyusun jadwal kegiatan dan memilih kegiatan yang sesuai.
  5. Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan
    Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data pasien agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses keperawatan, misalny dari percakapan dengan pasien di ketahui bila sedang sendirian ia sering mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi bila ada orang lain di dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas. Perawat menyarankan agar pasien jangan menyendiri dan menyibukkan diri dalam permainan atau aktivitas yang ada. Percakapan ini hendaknya di beritahukan pada keluarga pasien dan petugaslain agar tidak membiarkan pasien sendirian dan saran yang di berikan tidak bertentangan.

·         Tindakan Keperawatan pasien dengan Menarik Diri
1.       Membina hubungan saling percaya
2.       Memberikan perhatian dan penghargaan
3.       Menanyakan penyebab klien menarik diri
4.       Mengidentifikasi kerugian menarik diri
5.       Mendiskusikan keuntungan bergaul dengan orang lain
6.       Mendiskusikan kemampuan klien untuk bergaul dengan orang lain
7.       Melibatkan keluarga dalam membantu klien melakukan aktivitas sehari-hari
8.       Selalu menanyakan perasaan klien setiap selesai melakukan aktivitas.


Referensi:
Davies,Teifion (2009) ABC Kesehatan Mental, Jakarta: EGC
http://www.mentalwirarakema.com/page38.php
runtah.com/asuhan-keperawatan-pasien-dengan-halusinasi/
17 Sep 2011 

0 komentar

Poskan Komentar

Search

Memuat...

Print This Page

Ada kesalahan di dalam gadget ini

PENGUNJUNG BLOG

Tayangan Laman

PENGUNJUNG BLOG

Kompas Online